Solskjaer Hanyalah Tumbal Kebodohan Manajemen Manchester United

Kamis, 25 November 2021, 18:50 WIB
22

Masa lalu penuh kesuksesan di bawah kepemimpinan pelatih legendaris, Sir Alex Ferguson, tampak mengubah cara United memandang dirinya sendiri. Tetapi hari-hari kejayaan tersebut telah lama berlalu. Semakin cepat MU bisa mengakuinya, itu semakin baik untuk mereka.

Bulan lalu, jalanan sekitar bangunan megah stadion Old Trafford, begitu dipadati para penggemar Liverpool yang menikmati kemenangan fantastis tim kebanggaan mereka atas Manchester United. Meski bertindak sebagai tim tamu, The Reds mampu menggilas Setan Merah dengan skor telak 5-0. Tepat ketika fans Liverpool berpesta, Ole Gunnar Solskjaer, mewakili dirinya sendiri, mengajukan pembelaan terkait kekalahan memalukan Manchester United.

Extra Chilli

Solskjaer selaku pelatih Man United, dituding jadi orang yang paling bertanggung jawab dalam hasil buruk timnya. Pria asal Norwegia ini mengakui bahwa apa yang baru saja dia saksikan di lapangan, merupakan ‘momen terkelam’ selama tiga tahun masa jabatannya memimpin Manchester United. Tapi, Solskjaer melanjutkan dengan mengatakan kalau dirinya enggan menyetujui desakan publik Old Trafford yang memintanya mundur.

“Kami telah melangkah terlalu jauh sebagai sebuah tim dan kami juga terlalu dekat untuk menyerah sekarang,” katanya.

Kinerja kurang memuaskan Solskjaer di kursi kepelatihan Manchester United memang telah lama jadi sorotan. Namun akibat menerima kekalahan telak daari Liverpool, dia telah menjadi sesuatu yang lebih buruk daripada objek belas kasihan. Ya, Solskjaer mau tak mau mendapati kenyataan dirinya telah menjadi bahan lelucon.

Para eksekutif Man United pun segera bergerak. Mereka menggelar pertemuan untuk membahas bagaimana harus bereaksi atas hasil kekalahan yang amat menyakitkan. Entah bagaimana proses diskusi berjalan, segenap tokoh eksekutif klub akhirnya sampai pada tahap pengambilan kesimpulan rapat: Sekarang bukan waktunya mendepak Solskjaer. Singkat cerita, Solksjaer selamat dari bayang-bayang pemecatan.

Ada beberapa cara guna menjelaskan keengganan Manchester United untuk langsung memecat Solskjaer pasca kekalahan dari Liverpool. Meski pada akhirnya keteguhan manajemen MU mempertahankan Ole luntur jua. Laga-laga selanjutnya, Man United ditekuk 0-2 yang dihiasi unsur penghinaan oleh Manchester City, dan kemudian dihancurkan 1-4 secara menyedihkan oleh tim papan bawah yang sedang terseok-seok, Watford.

Koi Gate

Menjual Sejarah Melulu

Satu penjelasan paling mudah yang dapat kita ambil adalah ketidakseriusan petinggi klub dalam memperhatikan prestasi Manchester United. Para eksekutif klub menunjuk Solskjaer, awalnya untuk jabatan pelatih sementara. Berkat pencapaian Solskjaer yang lumayan walau sejatinya pola permainan tim jauh dari kata bagus, manajemen MU kemudian datang memberikan serangkaian kontrak permanen yang terus diperpanjang.

Kini saat Solskjaer telah dipecat, pemilik klub tidak mau menyudutkan siapa-siapa. Pihak eksekutif MU seakan tak terlalu masalah jika prestasi klub merosot selama uang terus mengalir. Mereka hanya mengedepankan sisi komersial yang stabil dibanding meningkatkan sekaligus menjaga kejayaan klub di atas lapangan.

Penjelasan versi lain yang jauh lebih baik, akan menunjukkan sentimentalitas aneh yang tampaknya menginfeksi Manchester United. Perlu diingat, Manchester United reputasinya lebih dari sekedar klub sepak bola. Mereka juga merupakan brand sekaligus perusahaan besar internasional. Tapi jalannya perusahaan sekarang dilalui tanpa wajah dan identitas yang jelas.

Manchester United hanya bisa membanggakan diri dengan menjual sejarahnya kepada siapa pun perusahaan sponsor yang mau mendanai mereka. Sejarah haruslah diapresiasi, dikenang selalu, dan dihargai; Tapi bukan dengan metode yang berlebihan seperti Manchester United. Pola yang terlihat akhirnya hanya menunjukkan bagaimana manajemen Manchester United terus mengambil kebijakan-kebijakan cuma dengan hati nurani, bukan mengandalkan kejernihan pikiran.

Sentimenitas aneh itu muncul setidaknya kala manajemen MU terburu-buru untuk memberi Solskjaer kontrak permanen. Secara aspek hasil pertandingan, Solskjaer selalu saja mampu menghadirkan peningkatan walau hampir selalu diawali perjalanan yang penuh jalan terjal. Puncaknya tersaji musim 2020/21 lalu; Pada awal musim kiprah Manchester United sering diterpa hasil buruk, tapi ujungnya finis di urutan kedua klasemen akhir Premier League, dan kontrak permanen Solskjaer kembali diperpanjang.

Sebelum jadi pelatih, Solskjaer adalah pemain legendaris Man United. Ketika dia ditunjuk jadi pelatih sementara hingga akhirnya diberikan kontrak permanen, itu sungguh menunjukkan sikap manajemen Manchester United yang lebih suka menjual sejarah. Padahal desakan publik fans MU yang menyuarakan seruan Ole Out telah terjadi berulang kali, tetapi manajemen klub berulang kali pula tetap mempertahankan Solskjaer.

Kebijakan Transfer Kurang Tepat

Manajemen Manchester United seakan benar-benar menjadikan Ole Gunnar Solskjaer sebagai tumbal atas kebodohan mereka sendiri. Berulang kali mereka membiarkan Solskjaer bertahan di kursi kepelatihan yang jelas-jelas terus dikritisi oleh banyak fans MU. Belum puas sampai di situ, manajemen Manchester United juga tidak menerapkan kebijakan transfer yang tepat untuk membantu segala keterbatasan pengetahuan taktik Solskjaer.

Awal musim ini, mayoritas penggemar klub bergembira menyambut kembalinya Cristiano Ronaldo. Kebahagiaan para penggemar ditambah dengan efek positif citra klub yang meroket. Maklum, Ronaldo yang dulu memang dibesarkan Man United, kini sudah mapan menjadi salah satu bintang sepak bola dunia paling populer seantero jagat. Jumlah pengikutnya di media sosial Instagram saja merupakan rekor terbanyak di dunia. Otomatis itu berdampak baik pula terhadap Manchester United secara komersial.

Keberhasilan Man United memulangkan Ronaldo juga dihiasi drama menegangkan yang berujung bahagia. Ronaldo sempat diisukan hampir sepakat gabung dengan rival sekota yang paling dibenci MU, yakni Manchester City. Isu Ronaldo ke Man City menguat, tokoh-tokoh legendaris klub ambil peran guna mencegahnya. Sir Alex Ferguson, Rio Ferdinand, hingga Patrice Evra, turun tagan membujuk Ronaldo hingga akhirnya sang mega bintang kembali ke Old Trafford.

Datangnya Ronaldo sejatinya bukanlah sesuatu yang buruk. Berbekal segala kehebatannya yang luar biasa, Ronaldo yang makin menua masih saja tajam mencetak gol. Bahkan Ronaldo berulang kali keluar sebagai penyelamat yang menghindarkan Man United dari kekalahan atau memberikan tim kemenangan. Kredit spesial tetap harus kita haturkan kepada Ronaldo.

Masalahnya, Ronaldo agaknya bukanlah pembelian yang benar-benar tepat dibutuhkan Man United. Ada anggapan kalau Ronaldo justru mengancurkan keseimbangan permainan Manchester United yang sekaligus menutup pemain-pemain bintang muda untuk unjuk gigi, seperti Mason Greenwood dan Jadon Sancho terutama. Ditambah keterbatasan pengetahuan taktik Solskjaer, gangguan keseimbangan di tubuh skuat MU makin parah saja.

Tidak perlu menjadi seorang pundit sepak bola untuk mengetahui bahwa Ronaldo bukanlah perekrutan yang tepat. Manchester United tanpa Ronaldo, sudah memiliki barisan penyerangan yang gahar untuk menjebol gawang lawan. Satu kebutuhan yang lebih tepat sebenarnya adalah gelandang bertahan penyeimbang lini tengah. Solskjaer bahkan tahu betul kebutuhan ini, tapi entah bagaimana manajemen MU tidak menunjangnya dan malah lebih rela menghambur-hamburkan uang demi membayar gaji Ronaldo yang amat mahal (walau biaya transfer tergolong murah).

Sulit untuk selalu mengandalkan Nemanja Matic yang sudah lewat masa jayanya. Fred masih saja mustahil diminta konsistensi permainannya. Sementara jebolan akademi klub, Scott McTominay, belum sedewasa itu mengemban tugas menjadi jenderal lapangan tengah yang piawai menjegal lawan sekaligus mengatur serangan.

Misi Mengembalikan Kejayaan yang Amburadul

Manchester United sampai sekarang masih menjadi tim tersukses sepanjang sejarah Liga Inggris maupun era Premier League. Gelar Liga Inggris mereka berjumlah 20, terbanyak di antara tim-tim lainnya (hanya bisa didekati Liverpool yang mengoleksi 19 gelar). Sementara gelar Premier League mereka berjumlah 13 yang kesemuanya ditorehkan MU semasa kepelatihan Sir Alex Ferguson.

Pasca Fergie pensiun pada 2013, Manchester United amat kesulitan mengembalikan reputasi mereka sebagai klub besar. Pelatih-pelatih top sudah dicoba, David Moyes yang ditunjuk langsung oleh Fergie tak mendapat kesempatan banyak; belum semusim sudah dipecat. Louis van Gaal dan Jose Mourinho yang punya taktik rigid dan sebenarnya menghasilkan gelar, walau bukan Liga Inggris, juga harus terdepak.

Solskjaer sejatinya punya DNA nama besar Man United. Dia aktif menjadi pemain selama era jaya MU di bawah Fergie. Tak heran jika Solskjaer berulang kali mengatakan visi dan misinya untuk mengembalikan jati diri Manchester United sebagai klub besar.

Namun apa daya, kebijakan Solskjaer dan terutama manajemen klub, tak pernah benar-benar jelas. MU tidak memiliki semua persyaratan membangun kekuatan tangguh di sepak bola modern: visi yang jelas, filosofi yang jelas, struktur yang koheren. Sebagian besar tim-tim besar Eropa memiliki kesemua persyaratan tersebut, sedangkan Manchester United tidak.

Paling kelihatan sekarang, manajemen MU tidak memiliki visi yang jelas dari keputusan mereka memecat Solskjaer. Mereka tidak punya solusi cepat dan tepat atas kekosongan jabatan di kursi kepelatihan. Manajemen hanya bisa menunjuk Michael Carrick yang merupakan legenda klub sekaligus asisten Solskjaer, untuk jadi pelatih sementara.

Sebenarnya ada banyak nama pelatih yang masuk bursa kandidat, tapi sampai sekarang belum ada keputusan resmi. Patut dinanti, siapa sosok pelatih yang akan ditunjuk MU. Apakah keputusan manajemen kali ini akan benar-benar efektif mengembalikan kejayaan klub yang kini kian meredup?