Chun Doo-hwan, Sang Penyelamat Korea Selatan yang Lebih Dikenal sebagai Diktator Keji

Kamis, 25 November 2021, 18:54 WIB
27

Chun Doo-hwan, namanya tenar dengan label mantan diktator dan pemimpin militer Korea Selatan. Dahulu dia bisa menjadi pemimpin Negeri Ginseng berkat kesuksesannya merebut kekuasaan dalam sebuah rencana kudeta. Dia pun memerintah Korea Selatan dengan tangan besinya sepanjang dekade 1980-an silam.

Segala kisah kekejian Chun Doo-hwan kini tinggalah cerita. Chun Doo-hwan baru-baru ini dilaporkan telah meninggal dunia di rumahnya di ibu kota Korea Selatan, Seoul. Dia menghembuskan nafas terakhir di usianya yang menginjak 90 tahun. Kabar kematiannya sudah mendapat konfirmasi dari badan kepolisian nasional Korea Selatan.

Extra Chilli

Chun Doo-hwan memimpin Korea Selatan sejak 1980 hingga 1988. Pada tahun 1996, atau delapan tahun setelah ia lengser, Chun dijatuhi hukuman mati atas tuduhan penghasutan dan pemberontakan yang berasal dari perannya dalam tragedi kudeta 1979. Tragedi kudeta ini merupakan momen yang membawanya ke tampuk kekuasaan tertinggi Korea Selatan.

Setelah menjalankan rencana, Chun diduga menjadi otak dari tragedi lainnya yang penuh pilu, yakni pembantaian demonstran di kota barat daya Gwangju pada tahun 1980. Tapi khusus tragedi pembantaian, keterlibatannya entah bagaimana mendapat pengampunan pada tahun 1997 sebagai pertanda adanya rekonsiliasi. Pengampunan terhadap Chun tercipta setelah Kim Dae-jung , mantan pembangkang yang pernah dihukum mati oleh junta militer Chun, terpilih sebagai presiden.

Chun diketahui turut dihukum karena dulu pernah mengeruk keuntungan yang nominalnya mencapai ratusan juta dolar berkat hasil praktik penyuapan. Uang suap diterima Chun dari keluarga kaya raya yang terhubung secara politik, atau yang biasa dikenal dengan istilah chaebol. Para chaebol sengaja menyuap Chun agar bisnis mereka berkembang menjadi semakin besar. Chun sendiri membantu para chaebol lewat kebijakan pemotongan pajak. Aksi Chun perihal penyuapan konon didukung oleh banyak aparat pemerintahan lain di sekitarnya.

Sebelum jadi presiden, karier Chun banyak tertera di ranah militer. Ia pernah menjabat sebagai kapten dan ikut serta dalam aksi kudeta Mayor Jenderal Park Chung-hee pada tahun 1961. Keikutsertaan tersebut membuat Chun bisa mengambil langkah jauh yang mengamankan tempatnya di elit militer Park Chung-hee.

Koi Gate

Ketika kediktatoran Park selama 18 tahun tiba-tiba berakhir dengan pembunuhannya pada tahun 1979, Chun yang saat itu juga seorang mayor jenderal, melakukan kudetanya untuk merebut kendali pemerintahan. Kala jabatan Chun selaku pemimpin negara berakhir, ia lantas memilih temannya sendiri, Roh Tae-woo, juga mantan jenderal, sebagai penggantinya.

 

Prestasi Apik Chun Doo-hwan

Sejarah bangsa Korea Selatan memang memiliki periode selama 32 tahun lamanya dipimpin oleh presiden berlatar belakang militer. Periode ini berlangsung setelah tragedi Perang Korea yang memilukan itu. Sepanjang periode kepemimpinan jenderal-jenderal, Korea Selatan berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi. Hasilnya pun manis, Korea Selatan menjadi salah satu ekonomi Macan Asia, menyalip saingannya Korea Utara dalam hasil industri dan pendapatan nasional.

Kala Chun Doo-hwan menjabat, perbaikan ekonomi secara signifikan berhasil dijalankan Korea Selatan. Kepemimpinan Chun Doo-hwan banyak membantu Korea Selatan keluar dari jeratan inflasi yang sebelumnya begitu kronis. Lebih manis lagi, Chun Doo-hwan membawa Korea Selatan meraih peningkatan ekonomi yang paling menonjol di dunia. Sepanjang era Chun Doo-hwan memimpin, Korea Selatan ekonominya termasuk di antara yang paling cepat berkembang, tumbuh rata-rata 10 persen per tahun.

Pemerintahan Korea Selatan era Chun Doo-hwan juga cakap menunjukkan kegigihan dan tajinya dalam mengambil peluang besar melawan Jepang, musuh historis mereka. Buktinya, Korea Selatan sukses terpilih untuk memenangkan hak menjadi tuan rumah Olimpiade 1988. Momen Korea Selatan jadi tuan rumah pesta olahraga secara luas dipandang sebagai tanda kemajuan negara yang amat pesat setelah dulu pernah dilanda perang saudara mengerikan.

Prestasi Chun Doo-hwan memang lumayan banyak selaku presiden Korea Selatan. Mungkin kalau Chun Doo-hwan tidak memimpin, perekonomian Korea Selatan mustahil dapat semaju seperti sekarang. Meski demikian, tetap saja reputasi apik Chun Doo-hwan sering dilupakan oleh masyarakat Korea Selatan maupun dunia. Namanya lebih cenderung dikenang sebagai seorang diktator daripada bapak bangsa yang menyelamatkan Korea Selatan dari keterpurukan.

“Di kalangan warga Korea Selatan, namanya identik dengan diktator militer yang tirani,” kata Choi Jin, direktur Institute for Presidential Leadership di Seoul.

“Pencapaian positifnya jauh lebih besar daripada warisan negatifnya. Cara dia dahulu ketika berkuasa memang pernah menjalankan program-program kediktatoran. Dan sampai sekarang itu yang diingat Korea Selatan tentang Chun,” lanjut Choi Jin.

 

Perjalanan Masa Muda Chun Doo-hwan

Chun Doo-hwan lahir ke dunia pada 18 Januari 1931 silam. Ia dibesarkan dari keluarga petani di Hapcheon, di tempat yang sekarang disebut Korea Selatan bagian selatan. Masa kecil Chun Doo-hwan tidak lepas dari momen kegetiran. Maklum, kala itu Korea Selatan masihlah menjadi bagian dalam wilayah jajahan Jepang.

Ayahnya, Chun Sang-woo, suatu hari harus kabur melarikan diri meninggalkan keluarga demi menghindari kejaran para penagih hutang dan petugas kepolisian Jepang. Chun Sang-woo jadi buronan setelah dia diduga melakukan aksi pembunuhan. Chun Doo-hwan pun otomatis harus menerima kenyataan masa kecilnya kurang mendapat perhatian dan kasih sayang seorang ayah.

Sementara ibunya, Kim Jeom-mun, memberikan kasih sayang yang berlebih kepada Chun Doo-hwan. Bahkan sang ibu menaruh harapan yang begitu tinggi kalau di masa mendatang Chun Doo-hwan, salah satu dari empat putranya, akan meraih sukses besar. Keyakinan ibunya dipengaruhi momen ketika seorang peramal Buddhis mengatakan bahwa tiga gigi depan Chun Doo-hwan yang menonjol akan menghalangi jalan anak laki-laki itu menuju kejayaan di masa depan. Ibunya lantas bergegas ke dapur dan mencabut gigi depan Chun Doo-hwan dengan sepasang penjepit.

Ibunya berusaha keras memberikan pendidikan terbaik untuk Chun Doo-hwan. Sang ibu mampu membiayai Chun Doo-hwan sampai lulus dari sekolah menengah kejuruan. Pasca lulus, ibunya sebenarnya punya dana yang minim. Namun sang ibu tetap memberanikan diri memasukkan Chun Doo-hwan ke jenjang pendidikan perguruan tinggi alias perkuliahan.

Sayangnya, Chun Doo-hwan tak pernah sampai bisa mendapat gelar sarjana. Ia terpaksa berhenti kuliah di tengah jalan akibat keterbatasan dana. Momen berhenti kuliah inilah yang ternyata mengantarkan Chun Doo-hwan mengenal ranah militer.

Tidak bisa berkuliah lagi, Chun Doo-hwan memutuskan melanjutkan kehidupannya dengan masuk ke Akademi Militer Korea. Di sini ia tak hanya fokus berlatih kemampuan militer. Kemampuan Chun Doo-hwan juga diasah di bidang tinju dan sepak bola.

Chun Doo-hwan lebih berbakat dalam bidang sepak bola ketimbang tinju. Buktinya ia menjadi kapten tim sepak bola Akademi Militer Korea dan biasa bermain di posisi penjaga gawang. Kelak, saat Chun Doo-hwan menjabat sebagai presiden, dia cukup sering memanggil pelatih kepala tim nasional sepak bola Korea Selatan di tengah pertandingan untuk mendikte strategi permainan.

 

Kediktatoran Chun Doo-hwan

Chun Doo-hwan menjabat sebagai kepala komando intelijen militer pada akhir 1979 ketika Park dibunuh oleh direktur KCIA, sebuah agen mata-mata, di pesta minum-minum. Chun Doo-hwan dan teman-teman tentaranya kemudian menangkap komandan militer mereka, Jenderal Jeong Seung-hwa. Selanjutnya Chun Doo-hwan memindahkan pasukannya ke Seoul untuk menyelesaikan rencana kudetanya yang sebagian besar tidak berdarah.

Jenderal Jeong ternyata jadi tumbal dalam kasus kematian Park. Chun Doo-hwan dan kawan-kawan menuding bahwa Jenderal Jeong adalah otak dari kasus pembunuhan tersebut. Jenderal Jeong mengaku dipaksa oleh anak buah Chun Doo-hwa untuk mengaku telah membunuh Park.

“Itu adalah pemberontakan kotor yang tidak memiliki tujuan lain selain untuk memuaskan keserakahan pribadi Chun Doo-hwan,” kata Jenderal Jeong di kemudian hari.

Sepanjang proses kudeta, Chun Doo-hwan menempatkan negara di bawah kondisi darurat militer. Dia juga menutup Parlemen dan universitas, serta menahan tokoh-tokoh pembangkang terkemuka, termasuk dua pemimpin oposisi, Kim Young-sam dan Kim Dae-jung. Pada Mei 1980, orang-orang di Gwangju, markas politik Kim Dae-jung, bangkit dan bergerak serentak melancarkan protes, meneriakkan, “Turunkan Chun Doo-hwan!”

Pasukan bergerak masuk, memegang tongkat dan bayonet dan melepaskan tembakan. Beberapa pengunjuk rasa mempersenjatai diri dengan senjata yang dicuri dari kantor polisi. Tindakan keras itu menelan sedikitnya 191 nyawa menurut hitungan resmi, termasuk 26 tentara dan polisi. Keluarga korban mengatakan jumlah korban tewas jauh lebih tinggi. Junta militer Chun Doo-hwan kemudian menghukum mati Kim Dae-jung atas tuduhan palsu menghasut pemberontakan Gwangju atas perintah Korea Utara.

Dalam sebuah wawancara eksklusif yang diterbitkan di majalah bulanan Korea Selatan, Shindonga, pada tahun 2016, Chun Doo-hwan membantah memberikan perintah menembak demonstran di Gwangju. Dia menolak tudingan sembari melancarkan dalih. Chun Doo-hwan menyebut dirinya sebagai korban “balas dendam” politik pada tragedi di Gwangju.

“Saya tidak ada hubungannya dengan insiden Gwangju,” katanya kepada majalah itu.

“Sebagai tentara, saya melihat negara dalam situasi yang sulit, dan saya harus menjadi presiden karena tidak ada cara lain. Bukannya saya ingin menjadi presiden.”

Setelah pembantaian Gwangju, Chun Doo-hwan dipilih sebagai presiden oleh sebuah perguruan tinggi yang diisi dengan delegasi pro-pemerintah. Dia memaksa media-media Korea Selatan untuk memilih antara menutup operasionalnya atau bergabung dengan beberapa surat kabar dan stasiun TV yang dikendalikan oleh pemerintahnya dengan “pedoman pers” harian. Berita TV prime-time selalu dimulai dengan laporan tentang rutinitas harian Chun Doo-hwan. Pernah ada seorang komedian dikeluarkan dari TV ketika orang-orang mulai membandingkannya dengan Chun Doo-hwan karena keduanya sama-sama berkepala botak.

Para pembangkang dari berbagai kalangan, aktivis, mahasiswa dan jurnalis, diseret ke dalam ruang penyiksaan. Di bawah program “pemurnian sosial” Chun Doo-hwan, pemerintah menangkap puluhan ribu gangster, tunawisma, pembangkang politik dan lainnya yang dianggap sebagai elemen masyarakat yang tidak sehat dan mengangkut mereka ke barak militer untuk diberi arahan (yang pastinya penuh dengan kebrutalan). Ratusan orang dilaporkan telah meninggal dunia di bawah program tersebut.

Korea Utara sempat mencoba membunuh Chun ketika dia mengunjungi Burma, sekarang dikenal sebagai Myanmar, pada tahun 1983. Bom yang ditanam oleh agen mata-mata Korea Utara menghancurkan Mausoleum Martir di Yangon, kemudian ibukota Burma, dan menewaskan 21 orang, termasuk beberapa menteri kabinet Korea Selatan. Chun Doo-hwan lolos dari serangan karena kedatangannya ke sana tertunda.